Cerpenatau cerita pendek merupakan prosa naratif fiktif yang tak lebih dari 10 ribu kata. Ide cerita pendek umumnya sangat sederhana, berkisar pada kehidupan sehari-hari. Meskipun terbatas pada karakter dan penceritaan, cerita pendek justru lebih menarik untuk diikuti. Bagi para pembaca yang tak nyaman dengan novel, cerita pendek bisa jadi
3 Esai tentang Cerita Pendek Karya Sastra Terjemahan. Hampir semua hal bisa dikomentari dinilai, keunggulan dan kekurangannya, tidak terkecuali cerita pendek terjemahan. Kalian dapat membuat esai cerpen dengan mengomentari unsur-unsur intrinsik, unsur ekstrinsik cerpen, maupun latar belakang cerpenisnya. Perhatikan kutipan esai Linus Suryadi A
LUKISANTUA DALAM BINGKAI PANJANG sekarang terpasang di dinding rumah Ibu. Lukisan yang selalu menjadi misteri bagiku sejak aku bisa berhitung. Dua belas sosok terlukis di sana. Sosok pertama di paling kiri adalah Eyang Uti yang bersanggul dan berkebaya kutubaru. Setelah itu berturut-turut di sebelahnya ada sosok Ibu sebagai anak pertama.
Talenta Oleh: Hafis Azhari, penulis novel Perasaan Orang Banten dan Pikiran Orang Indonesia. Bu Mega merasa khawatir ketika Talenta, anak satu-satunya, terpaksa harus dikeluarkan dari SDN Karang Asem, Cilegon, meskipun dia baru mengikuti pelajaran di kelas I SD. Agak mengherankan memang, baru saja beberapa minggu duduk di kelas satu, tapi
Nahkali ini mimin akan membahas tentang cerpen , yups cerita pendek . Memang cerita yang satu ini banyak di sukai oleh semua golongan baik tua maupun muda . Ya karena sifat dari cerita ini yg ringkas , mudah dinikmati , dan tidak membikin jenuh karena pendek . Hati yang sabar membasuh kemarahan dan kekesalan dalam diri. Ia menjawab dengan
DongengCerita Pendek tentang Kesabaran - Raja dan Wanita Tua. 2 November 2021 dongeng cerita rakyat. Pada malam hari ini kami memposting satu dongeng cerita pendek tentang kesabaran. Cerpen Raja dan Wanita tua ini akan memberi. Lanjutkan Membaca →.
. Suatu ketika ada seorang Raja di suatu negara yang sedang melakukan tur dengan para Menterinya, termasuk keamanan kerajaannya dan yang lainnya. Dia beristirahat, di bawah naungan pohon mangga di kebun mangga bersama timnya ketika tiba-tiba sebuah batu menghantamnya tepat di dahinya. Segera dia mulai berdarah. Raja tidak tahu siapa yang melemparkan batu kepadanya, tetapi dia tahu bahwa dia mengalami rasa sakit yang tak tertahankan. Sekuritas kerajaan segera pergi untuk menemukan orang yang melemparkan batu ke arah raja. Setelah mencari mereka hanya menemukan satu wanita tua di sana, dan mereka bertanya apakah dia telah melempar batu baru-baru ini. "Ya," jawabnya. "Aku melempar batu ke pohon mangga." Mereka bertanya kepadanya, "Apakah kamu melempar batu ke raja?" Wajah wanita itu menunjukkan betapa ketakutannya dia, jadi penjaga itu dengan paksa mengatakan kepadanya bahwa dia akan dihukum. Wanita itu ditangkap dan dihadirkan di hadapan Raja. Dia gemetar ketakutan dan berdoa agar mereka tidak membunuhnya. Setelah melihat darah mengalir di wajah Raja, dia menjadi lebih kesal dan merasa putus asa. "Apa yang akan terjadi padaku?" Pikirnya. Raja, dengan sangat tenang bertanya padanya, "Apakah kamu melemparkan batu ke arahku?" Dia menjawab, "Yang Mulia, saya melemparkan batu ke pohon mangga." "Kenapa?" Tanya raja. pohon mangga Dia menjawab sambil menangis, “Yang Mulia, anak saya telah kelaparan selama dua hari. Saya mengumpulkan makanan untuknya tetapi tidak dapat menemukannya. Saya berharap bahwa ketika saya melempar batu ke pohon mangga, sebuah mangga akan jatuh sehingga saya bisa meberi makan anak saya. Yang Mulia, secara tidak sengaja batu itu mengenai dahi Anda dan itu adalah kesalahan saya yang tidak diketahui. " Wanita itu membungkuk di hadapan raja memohon maaf atas kesalahannya. Raja itu baik hati dan memahami situasinya dengan sangat jelas. Dia memaafkan kesalahannya dan memerintahkan petugas keamanannya untuk tidak menghukumnya dengan cara apa pun. Alih-alih hukuman, dia berkata untuk memberikan uang, makanan, dan mengembalikannya dengan selamat ke rumahnya.
Ibnu Hibban meriwayatkan di dalam kitab “Ats-Tsiqat” kisah ini. Dia adalah imam besar, Abu Qilabah Al-Jurmy Abdullah bin Yazid dan termasuk dari perawi-perawi yang meriwayatkan dari Anas bin malik. Dan yang meriwayatkan kisah ini adalah Abdullah bin Muhammad. Berikut kisahnya Saya keluar untuk menjaga perbatasan di Uraisy Mesir. Ketika aku berjalan, aku melewati sebuah perkemahan dan aku mendengar seseorang berdoa, “Ya Allah, anugerahkan aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmatMu yang telah engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridloi. Dan masukkanlah aku dalam rahmatMu ke dalam golongan hamba-hambaMu yang shalih.” QS. An-Naml 19. Aku melihat orang yang berdoa tersebut, ternyata ia sedang tertimpa musibah. Dia telah kehilangan kedua tangan dan kedua kakinya, matanya buta dan kurang pendengarannya. Beliau kehilangan anaknya, yang biasa membantunya berwudhu dan memberi makan… Lalu aku mendatanginya dan berkata kepadanya, “Wahai hamba Allah, sungguh aku telah mendengar doamu tadi, ada apa gerangan?” Kemudian orang tersebut berkata, “Wahai hamba Allah. Demi Allah, seandainya Allah mengirim gunung-gunung dan membinasakanku dan laut-laut menenggelamkanku, tidak ada yang melebihi nikmat Tuhanku daripada lisan yang berdzikir ini.” Kemudian dia berkata, “Sungguh, sudah tiga hari ini aku kehilangan anakku. Apakah engkau bersedia mencarinya untukku? Anaknya inilah yang biasa membantunya berwudhu dan memberi makan Maka aku berkata kepadanya, “Demi Allah, tidaklah ada yang lebih utama bagi seseorang yang berusaha memenuhi kebutuhan orang lain, kecuali memenuhi kebutuhanmu.” Kemudian, aku meninggalkannya untuk mencari anaknya. Tidak jauh setelah berjalan, aku melihat tulang-tulang berserakan di antara bukit pasir. Dan ternyata anaknya telah dimangsa binatang buas. Lalu aku berhenti dan berkata dalam hati, “Bagaimana caraku kembali kepada temanku, dan apa yang akan aku katakan padanya dengan kejadian ini? Aku mulai berpikir. Maka, aku teringat kisah Nabi Ayyub alaihis salam. Setelah aku kembali, aku memberi salam kepadanya. Dia berkata, “Bukankah engkau temanku?” Aku katakan, “Benar.” Dia bertanya lagi, “Apa yang selama ini dikerjakan anakku?” Aku berkata, “Apakah engkau ingat kisah Nabi Ayyub?” Dia menjawab, “Ya.” Aku berkata, “Apa yang Allah perbuat dengannya?” Dia berkata, “Allah menguji dirinya dan hartanya.” Aku katakan, ”Bagaimana dia menyikapinya?” Dia berkata, “Ayyub bersabar.” Aku katakan, “Apakah Allah mengujinya cukup dengan itu?” Dia menjawab, “Bahkan kerabat yang dekat dan yang jauh menolak dan meninggalkannya.” Lalu aku berkata, “Bagaimana dia menyikapinya?” Dia berkata, “Dia tetap sabar. Wahai hamba Allah, sebenarnya apa yang engkau inginkan?” Lalu aku berkata, “Anakmu telah meninggal, aku mendapatkannya telah dimangsa binatang buas di antara bukit pasir.” Dia berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak menciptakan dariku keturunan yang dapat menjerumuskan ke neraka.” Lalu dia menarik nafas sekali dan ruhnya keluar. Aku duduk dalam keadaan bingung apa yang kulakukan, jika aku tinggalkan, dia akan dimangsa binatang buas. Jika aku tetap berada disampingnya, aku tidak dapat berbuat apa-apa. Ketika dalam keadaan tersebut, tiba-tiba ada segerombolan perampok mendatangiku. Para perampok itu berkata, “Apa yang terjadi?” Maka aku ceritakan apa yang telah terjadi. Mereka berkata, “Bukakan wajahnya kepada kami!” Maka aku membuka wajahnya, lalu mereka memiringkannya dan mendekatinya seraya berkata, “Demi Allah, Ayahku sebagai tebusannya, aku menahan mataku dari yang diharamkan Allah dan demi Allah, ayahku sebagai tebusannya, tubuh orang ini menunjukkan bahwa dia adalah orang yang sabar dalam menghadapi musibah.” Lalu kami memandikannya, mengafaninya dan menguburnya. Kemudian, aku kembali ke perbatasan. Lalu, aku tidur dan aku melihatnya dalam mimpi, beliau kondisinya sehat. Aku berkata kepadanya, “Bukankah engkau sahabatku?” Dia berkata,” Benar.” Aku berkata, “Apa yang Allah lakukan terhadapmu?” Dia berkata, “Allah telah memasukkanku ke dalam surga dan berkata kepadaku, Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu.’” QS. Ar-Ra’d 24. “Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” QS. Ar-Ra’d 28. Dari ceramah Syaikh Abu Ishaq Al-Huwainy yang berjudul Jannatu Ridha fit Taslim Lima Qadarallah wa Qadha Artikel KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI +62813 26 3333 28
Jakarta - Ada suatu kisah dari seorang laki-laki dengan kondisi buta dan buntung kedua tangan dan kakinya. Istimewanya, ia senantiasa sabar dan ridha serta tidak ada rasa penyesalan dan kesedihan meratapi dunia dalam ini diceritakan oleh Al-Auza'i yang ditulis oleh Imam Ibnul Jauzi dalam dalam 'Uyun Al-Hikayat Min Qashash As-Shalihin wa Nawadir Az-Zahidin dan diterjemahkan oleh Abdul Hayyi menceritakan bahwa ada orang bijak pernah bercerita tentang kisah yang ia alami saat ia pergi ke Ar-Ribath tempat berkumpulnya orang-orang sufi yang biasanya terletak di wilayah perbatasan.Begitu sampai di Arisy Mesir atau daerah di dekatnya, orang tersebut melihat sebuah kemah yang dihuni oleh seorang laki-laki buta dan buntung kedua tangan dan kakinya. Waktu itu ia sempat mendengar laki-laki itu berucap, "Ya Allah, saya memuji-Mu dengan pujian sepenuh pujian makhluk-Mu atas nikmat yang telah Engkau karuniakan kepadaku dan karena Engkau telah melebihkan saya atas kebanyakan dari makhluk yang Engkau ciptakan."Orang bijak itu kemudian berkata dalam hati, "Sungguh, saya akan bertanya kepadanya tentang sesuatu yang telah Allah ajarkan atau ilhamkan kepadanya." Ia pun beranjak mendekatinya, menyapanya dengan salam dan dia pun menjawabnya."Saya ingin bertanya kepadamu tentang sesuatu yang engkau berkenan untuk memberitahukannya kepadaku," kata orang bijak itu kepada orang lelaki buta tersebut."Jika memang saya memiliki pengetahuan tentang apa yang akan engkau tanyakan, maka saya akan menjawabnya," jawab orang buta itu."Atas nikmat atau keutamaan apa engkau memanjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT, sementara lengkap sudah musibah dan penderitaan yang engkau alami itu," tanya orang bijak itu kepadanya."Bukankah engkau melihat apa yang telah Allah SWT perbuat terhadapku?" kata orang itu."Ya, tentu saja," jawab orang bijak."Demi Allah, sungguh seandainya Allah SWT menumpahkan api dari langit pada diriku, hingga diri ini terbakar, memerintahkan gunung-gunung untuk runtuh menimpaku, hingga diri ini remuk, memerintahkan lautan untuk meneggelamkanku dan memerintahkan bumi untuk menelanku, niscaya yang terjadi adalah saya akan tetap cinta dan semakin memanjatkan puji syukur kepada-Nya. Saya ingin minta tolong kepadamu. Saya punya seorang anak laki-laki belia yang selama ini selalu membantuku setiap saya mau salat dan berbuka puasa. Sejak kemarin, saya tidak melihatnya. Maukah engkau membantuku untuk mencarikan di mana dia?" kata orang bijak kemudian berkata dalam hati, "Membantu seorang hamba seperti dia tentu merupakan sebuah amal baik yang bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT.""Tentu saja," orang bijak tersebut mencari keberadaan anak si buta yang saleh itu. Ketika sampai di antara bukit-bukit pasir, ia dikagetkan dengan sebuah pemandangan yang memilukan. Seekor binatang buas sedang memangsa anak orang pun langsung membaca kalimat istirja' dan bergumam dalam hati, "Bagaimana saya akan menyampaikan kejadian ini kepada orang tersebut dengan cara yang tidak sampai membuatnya mati karena kaget dan merasa terpukul."Setelah itu, ia pun bergegas ke tenda orang buta tadi dan mengucapkan salam. Orang itu pun membalas salamnya."Wahai tuan, saya ingin bertanya kepadamu tentang sesuatu. Apakah engkau bersedia menjawabnya?" kata orang bijak itu padanya."Jika saya memiliki pengetahuan tentang apa yang engkau tanyakan tersebut, maka saya akan menjawabnya," jawab orang itu."Apakah engkau lebih mulia kedudukannya di sisi Allah SWT ataukah Nabi Ayub AS?" tanya orang bijak itu kepadanya."Tentu saja Nabi Ayub AS lebih mulia dan lebih agung kedudukannya di sisi Allah SWT daripada diriku," jawab si buta itu."Bukankah Allah SWT menguji Nabi Ayub dan dia sabar, hingga orang-orang yang semula dekat dengannya mulai menjauhinya," tanya orang bijak itu lagi."Ya, benar," jawab si buta."Begini, putramu yang engkau ceritakan kepadaku itu, tadi pada saat saya mencarinya, saya tiba di perbukitan pasir dan melihat putramu itu sedang dimangsa binatang buas," kata orang bijak itu menjelaskan kondisi putra dari orang buta itu."Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah yang tidak menjadikan dalam hati ini rasa penyesalan dan kesedihan meratapi dunia," kata orang buta tersebut. Lalu dia pun menarik napas dengan merintih dan tak lama kemudian meninggal hal itu, orang bijak tadi lantas membaca kalimat istirja' dan berkata berkata dalam hati, kira-kira siapa yang akan membantunya memandikan, mengafani, dan memakamkan jenazah laki-laki buta lama kemudian, tiba-tiba kafilah yang hendak menuju ke Ribath melintas di tempat itu. Ia pun memanggil mereka. Dan menceritakan tentang orang buta tersebut dan apa yang terjadi kafilah tersebut turun dari unta mereka dan menderumkannya. Setelah itu, mereka memandikan jenazah orang tersebut menggunakan air laut, mengafaninya dengan pakaian yang mereka bawa, menyalati dan memakamkannya di dalam semuanya selesai, kafilah itu melanjutkan perjalanannya, sementara orang bijak itu masih tetap di tengah malam ia bermimpi melihat orang buta tadi berada di sebuah taman hijau dengan mengenakan pakaian sutra hijau sedang membaca Al-Qur'an."Bukankah engkau adalah kawanku itu?" tanya orang bijak itu kepadanya."Ya benar," jawabnya."Apa yang telah membuatmu mendapatkan apa yang saya lihat ini?" tanya orang bijak itu lagi."Saya datang dari kelompok orang-orang sabar pada suatu derajat yang tidak mereka raih kecuali dengan kesabaran di saat mendapatkan ujian dan bersyukur di saat sejahtera," mengatakan, sejak mendengar cerita dari orang bijak tersebut tentang kisah laki-laki buta dan buntung kedua tangan kakinya, namun sabar dan ridha terhadap takdirnya, ia Al-Auza'i selalu merasa senang kepada orang-orang yang mendapat ujian hidup. Simak Video "KY Buka Peluang Periksa Dugaan Etik Sekretaris MA & Hakim Agung Takdir" [GambasVideo 20detik] kri/erd
Pada malam hari ini kami memposting satu dongeng cerita pendek tentang kesabaran. Cerpen Raja dan Wanita tua ini akan memberi gambaran kepada kita mengenai pentingnya untuk bersabar. Dongeng Cerita Pendek tentang Kesabaran – Raja dan Wanita Tua Pada zaman dahulu ada seorang raja yang senang berburu. Suatu hari saat sedang berburu dia terpisah dari pasukannya dan tersesat masuk kedalam hutan. Sang raja melihat sekeliling dari puncak bukit tetapi tidak dapat melihat orang atau desa di dekatnya. Hari mulai gelap. Setelah beberapa waktu, dia melihat secercah cahaya di kejauhan. Dia mulai berjalan ke arah itu dan menemukan sebuah gubuk. Di luar gubuk, terlihat seorang wanita tua yang sedang membersihkan tempat itu. Setelah melihat raja, dia menyambutnya dengan berpikir bahwa dia adalah seorang prajurit dari pasukan Raja. Dia memberi raja air untuk membersihkan dirinya dan air untuk diminum. Dia kemudian membentangkan tikar bagi si Raja untuk bersantai. Raja mulai santai. Setelah beberapa waktu, si wanita tua membawa sepiring nasi panas dan memberikannya kepada sang raja. Raja sangat lapar sehingga dia dengan cepat mengambil nasi itu dengan tangannya. Nasi yang sangat panas membakar tangan sang raja, yang akhinya menjatuhkan nasi yang dipegangnya ke lantai. Wanita tua yang melihat itu berkata, “Oh, kamu sangat tidak sabar dan tergesa-gesa seperti rajamu, itu sebabnya jarimu terbakar dan kehilangan makanan”. Mendengar kata-kata wanita tua itu, raja terkejut dan bertanya kepadanya “mengapa menurutmu raja kita tidak sabar dan tergesa-gesa?.” Wanita tua itu tersenyum dan mulai menjelaskan kepadanya. “Anakku sayang, raja kita memiliki mimpi besar untuk merebut semua benteng musuhnya. Dia mengabaikan benteng-benteng kecil musuhnya dan mencoba untuk merebut hanya benteng besar.” Raja menyela wanita tua itu dan berkata, “Itu hal yang benar. Apa masalahnya dengan itu?”. Si Wanita tua tersenyum dan menjawab, “Tunggu, anakku. Seperti ketidaksabaran Kamu dalam memakan makanan, Kamu membakar jari-jari Kamu dan menyia-nyiakan banyak makanan, Demikian pula, ketidaksabaran raja untuk mengalahkan musuh dengan cepat, menyebabkan dia kehilangan orang-orang di pasukannya. Jadi, sebaliknya, jika Kamu makan makanan di tepi piring yang lebih dingin, dan kemudian secara bertahap baru memakan makanan yang di tengah, Kamu tidak akan membakar jari Kamu dan juga tidak membuang makanan Kamu. Demikian pula, raja harus menargetkan benteng-benteng kecil dan memperkuat posisinya. Ini akan membantunya untuk merebut benteng yang lebih besar tanpa kehilangan orang dari pasukannya”. Mendengar ini, raja memahami kesalahannya dan menyadari bahwa seseorang harus memiliki kesabaran dan menghindari tergesa-gesa dalam situasi apa pun. Pesan moral dalam Dongeng Cerita Pendek tentang Kesabaran – Raja dan Wanita Tua adalah Ketika Kamu ingin mencapai sesuatu dalam hidup, pahami dulu proses Apa yang diperlukan untuk mencapainya dan kerjakan. Sebaliknya, jika Kamu mencari hasil yang cepat, Kamu akan menjadi tidak sabar dan tidak pernah mencapai apa yang Kamu inginkan dalam hidup Kamu. Misalnya Jika Kamu ingin menurunkan berat badan Kamu 10kg dalam satu minggu, itu tidak akan terjadi. Sebaliknya, fokuslah pada 1kg dalam 2 hingga 3 minggu dan 10kg dalam 6 bulan. Jadi, dalam jangka panjang, dengan kesabaran, Kamu akan mencapai apa yang Kamu inginkan dalam hidup Kamu. Baca juga dongeng cerita pendek inspiratif lainnya pada posting kami berikut ini Cerita Roti Sepotong Gosong Kisah Inspirasi untuk AnakKisah Inspiratif Islam Singkat Bertetangga Ala RasulullahCerita Inspirasi Kehidupan Singkat Perjuangan Kupu-KupuKumpulan Contoh Teks Cerita Inspirasi untuk Bahan MendongengCerita Kisah Inspiratif Kehidupan Penderitaan Orang LainCerita Inspiratif Anak Untuk Mendorong Sukses Dalam Hidup Kunjungi juga channel Yotube kami BAHAGIA STUDIO
Cerpen Karangan Lia AndiniKategori Cerpen Cinta Dalam Hati Terpendam, Cerpen Galau, Cerpen Pengalaman Pribadi Lolos moderasi pada 29 August 2018 Diibaratkan seperti kata yang tak dapat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Dan seperti isyarat yang tak sempat diungkapkan awan kepada hujan. Kata yang sangat sederhana namun bermakna. Aku sering bertanya pada Allah setiap kali aku berdoa. Kenapa sabar ini tanpa batas. Dan sampai kapan aku bisa bertahan dan tetap menjaga sabar dan ikhlas itu? Terkadang aku yakin rencana Allah jauh lebih baik dan lebih indah dari apa yang aku bayangkan. Tapi kenapa seakan waktu dan takdir begitu mempermainkan kehidupanku. Kenapa dia titipkan rasa yang begitu hebatnya hingga aku tidak tau cara untuk melepasnya. Kenapa harus ada cinta jika kita tidak ditakdirkan bersama. Kenapa harus aku yang selalu merasa kehilangan. Apa salahku ya tuhan kenapa kau uji aku dengan sedemikian hebatnya. kata kata itu selalu aku ucapkan dalam hati ketika sabar sudah tidak bisa aku gengam lagi. Ketika ikhlas berubah jadi amarah. Ketika hati sudah tidak kuat lagi menahan perih. Iya perih. Perihnya mengikhlaskan orang yang kita cintai bahagia bersama wanita lain. Kenapa mulut dan hati tidak bisa bekerjasama, harusnya jika mulut bilang sudah merelakan hati pun demikian. Tapi ini berbeda. Egoiskah aku? Atau munafik kah aku? Mulutku berkata.. “selamat ya kak semoga lancar sampai hari H..” tapi hati berkata dan meminta agar pernikahan mereka batal.. Aku tau ini salah dan aku pun berusaha untuk tidak menuruti hati, tapi ketahuilah ini tidaklah mudah karena Melupakan tidak semudah jatuh cinta. Dan saat fikiran telah dikuasai hati aku pun lupa diri. Lupa masih mencintai yang bukan haknya. Lupa masih berharap bahwa dia akan kembali. Dan lebih parahnya lagi hati percaya jika dia adalah jodoh yang Allah siapkan untukku. Padahal jelas jelas dia sudah akan menjadi suami orang. Karena hidup adalah pilihan dan kamu pun sudah memilih dia. Maka pilihanku hanya 1 yaitu melupakan kamu dan kenangannya.. Dan perjalanan ikhlas dan sabarku masih sangat panjang karena 2 kata itu memang tanpa batas. Dan semoga ikhlas dan sabarku berbuah manis Cerpen Karangan Lia Andini Cerpen Karena Sabar Dan Ikhlas Tanpa Batas merupakan cerita pendek karangan Lia Andini, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya. "Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!" Share ke Facebook Twitter WhatsApp " Baca Juga Cerpen Lainnya! " How To Love Part 1 Oleh Mohamad Angga Perasaan cinta yang masih kupendam tentunya sulit untuk aku lupakan selama ini sayang. Apa kabarmu hari ini? semoga kau tetap bahagia dengan keadaanmu saat ini, aku sangat yakin. Hai, Antara Aku dan Ketidakwarasan Oleh Novita Dewi Indiani Rasa sesal yang semakin mendalam membuatku merasa ingin sekali berteriak kepada sosok yang membuatku menggila, seakan memenuhi seisi ruang di hatiku yang nyaris saja menggetarkan kewarasanku, ya antara aku Cinta Gengsi Kasih Tak Sampai Oleh Chaerunisa Kedua bola matanya masih menatap hujan dari jendela kelasnya. Yang memang kini giliran saat musim hujan beraksi, setelah musim panas berlalu dengan sendirinya. Entah apa yang ada di pikirannya Ulang Tahun Ke 14 Oleh Riswan Maulana Namaku Riswan Maulana usiaku 16 tahun. Aku duduk di kelas 2 SMA. Seperti yang tertera di namaku aku lahir di bulan oktober tepatnya tanggal 30 tahun 2000. Kisah ini Kenapa Harus Dia Oleh Dewi Anilasari Pagi itu sangat indah, sejuk dan juga cerah, membuat semua hati orang senang dan bahagia karenanya tapi bukan bagi hati Bella, pagi itu tak Indah baginya dan mungkin seperti “Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?” "Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan loh, bagaimana dengan kamu?"
cerita pendek tentang sabar